Berita

Pemilu 2024 PAN Kerahkan Artis ‘Berperang’, Viva Yoga Mauladi: Mereka Bukan Sekadar Vote Getter

Lagu “Pan Pan Pan” milik Partai Amanat Nasional (PAN ) berhasil mendulang atensi publik.

Lagu tersebut mengudara di sejumlah tempat umum dan tak jarang dinyanyikan anak-anak yang bahkan belum memiliki hak pilih dalam politik.

Kendati terkesan digandrungi banyak orang, namun survei PAN di beberapa lembaga rupanya tak sampai lima persen.

Berdasarkan Litbang Kompas per Agustus 2023, elektabilitas PAN cuma 3,4 persen. Sedangkan ambang batas parlemen minimal empat persen.

Sementara survei Indikator Politik Indonesia pada Juli 2023 lalu, PAN diprediksi memenuhi ambang batas parlemen namun elektabilitasnya hanya 4,3 persen.

Terkait hal tersebut, Wakil Ketua Umum DPP PAN Viva Yoga Mauladi mengakui partainya kerap dijuluki “Nasakom” sejak dulu. Nasakom merupakan singkatan “Nasib Satu Koma”.

Label ini melekat ke PAN lantaran survei mereka kerap menyentuh angka satu koma dalam ambang batas parlemen.

Viva Yoga bahkan tak malu menyampaikan partainya kerap dipelesetkan sebagai “Partai Artis Nasional” lantaran kerap menempatkan artis demi mendulang suara.

Berikut wawancara eksklusif pemimpin redaksi Warta Kota Domu D Ambarita bersama Viva Yoga yang berlangsung di Kantor DPP PAN, Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu (29/11):

Sampai Agustus lalu, beberapa lembaga survei atau konsultan politik mengidentifikasi empat partai yang disebut rentan tidak lolos parlemen dan satu di antaranya PAN. Apa yang dilakukan pihak Anda menyikapi survei tersebut?

Jadi sejak 2004, PAN itu selalu dimasukkan sebagai partai “nasakom” atau partai yang nasibnya satu koma.

Tapi setahun belakangan ini, beberapa lembaga survei yang dulu mengategorikan PAN sebagai partai nasakom, Alhamdulillah surveinya lolos parliamentary threshold seperti Indikator, Poltracking Indonesia, Lembaga Survei Indonesia (LSI), Charta Politika, dan beberapa lembaga survei lainnya.

(Mereka) Itu sudah merilis lolos lebih dari empat persen, kecuali Kompas. Tapi buktinya kan sampai sekarang PAN selalu lolos.

Jadi saya tidak mengkritik tentang kredibilitas dan integritas dari lembaga survei, tetapi intinya kami selalu konsisten untuk lolos ke parlemen.

Dan pemilu 2024 mendatang, kami semakin yakin PAN sudah melebihi persyaratan minimal parliamentary threshold dan kami akan maksimalkan lagi agar bisa dua digit.

Target agak keras, PAN harus mendapatkan 11 persen kursi di DPR RI atau setara dengan 64 kursi tingkat provinsi dan kabupaten.

Hal apa saja yang dilakukan PAN untuk membuktikan jika survei lembaga-lembaga tersebut keliru atau tidak sesuai perolehan suara di tengah masyarakat?

Yang dilakukan kerja-kerja konkret di lapangan. Jadi waktu lembaga survei itu kami tanya, kenapa PAN kok selalu disurvei rendah, tapi kenyataan dari hasil Komisi Pemilihan Umum (KPU) selalu lolos?

Alasannya ya karena PAN itu, calegnya masih belum bekerja secara survei.

Kami juga sudah pelajari bahwa memang bahasa dari beberapa teman lembaga survei adalah fenomena unik dari PAN, alasannya begitu.

Tapi setelah kami melakukan diskusi, dalam berbagai perspektif kami coba kaji ternyata memang menunjukkan sesuatu yang positif, dan sekarang ini, dari sebagian besar lembaga survei menyatakan PAN sudah lolos parliamentary threshold.

Setiap Pemilu, PAN kelihatannya merekrut tokoh-tokoh influencer dan artis. Tahun ini barangkali ada lebih 23 artis gabung di PAN. Apakah itu strategi untuk meningkatkan elektabilitas PAN?

Karena PAN itu Partai Artis Nasional. Jadi pertanyaannya, kenapa artis-artis yang masuk PAN itu betah? Itu pertanyaannya. Kenapa mereka memilih PAN?

Jadi di PAN ini, ketua umumnya Pak Zulkifli Hasan adalah seorang yang humble, non-birokrasi, dan kami tidak membedakan kader lama, kader baru, pengurus lama, pengurus baru.

Kami bersaudara semuanya, ada rasa egaliter (sederajat), rasa nyaman ketika masuk partai politik yang kelihatannya seram.

Jadi menyenangkan, bahagia, dan menyehatkan setelah mencerdaskan. Jadi bagi kami, memposisikan artis itu sama dengan kader yang lain.

Tidak menjadi vote getter (objek pendulang suara) tapi diwajibkan ketika turun menjadi caleg harus menang.

Kalau menjadi vote getter kan seperti pelengkap penderita, sekadar menambah suara.

Tapi di PAN tidak. Seluruh caleg dengan background apapun, apakah dia profesional, artis, akademisi, sarjana hukum, dan lain sebagainya, diwajibkan berkompetisi maksimal dan harus menang.

Mereka punya hak dan punya kesempatan yang sama dengan caleg-caleg yang lain sehingga beberapa kader dari artis kan juga tidak kalah dari sisi ekstensi di DPR.

Pemilih 2024 itu didominasi anak muda. Dari 202 juta jumlah pemilih, sekitar 113 juta adalah generasi Z dan X atau kombinasi millenial dan Z. Apa program PAN untuk anak muda?

Kalau dulu PAN itu membuat program, apa mau kami, maunya PAN, maunya pengurus.

Tapi sejak Zulkifli Hasan menjadi ketua umum, kami melakukan reset dan ternyata seluruh program PAN itu berdasarkan hasil reset.

Apa maunya pasar, apa maunya konstituen. Itu yang kami elaborasi tapi tetap untuk ideologi politik, partai, selalu menjadi landasan dalam setiap program-program.

Makanya dalam beberapa bulan, beberapa tahun, kami sudah merasakan adanya getaran program PAN yang berbeda dengan sebelumnya. Termasuk lagunya, anak kecil pun juga tahu kan.

Jadi kami di samping tetap membina basis konstituen yang sudah ada, kami memfokuskan kepada pemilih kaum milenial dan generasi yang 56 persen itu.

Biasanya program untuk mendekati mereka dengan cara, bahasa, gaya, dan metode mereka.

PAN ini adalah blue squad (tim biru). Blue squad itu adalah tim dari PAN. Ada artis, ada kaum profesional, ada gen Z di situ.

Dan mereka bergerak untuk mendekati kaum muda, gen Z, dan memberikan pendidikan politik kepada mereka.

Keberadaan kunci dari partai politik itu seperti ini, seleksi kepentingan, kepemimpinan, menyerap aspirasi.

Meski kini PAN terkesan tampil dengan warna politik yang tak membawa unsur agama dan cenderung menampilkan keterbukaan terhadap kaula muda dan public figur, namun rupanya sejarah partai biru itu tak dapat dipisahkan dari Muhammadiyah.

Pasalnya dari sanalah PAN tumbuh dan kini menjadi partai politik yang pada Pilpres 2024 ini mendukung Prabowo-Gibran.

“PAN itu lahir dari rahim reformasi dan juga lahir dari rahim majelis tarjih Muhammadiyah pada waktu itu di Semarang tahun 1998,” ujar Viva Yoga.

“Kemudian, merekomendasi Muhammadiyah perlu adanya partai politik baru. Tetapi setelah menjadi partai politik, PAN itu secara historis sampai sekarang tidak bisa dipisahkan (dengan Muhammadiyah),” lanjutnya.

Meski begitu, Yoga menyebut jika secara organisatoris, antara PAN dan Muhammadiyah tidak ada hubungannya.

“Karena Muhammadiyah sebagai ormas keagamaan yang besar, tentu akan mendistribusikan seluruh kader-kadernya bukan hanya ke PAN, tetapi juga ke partai yang lain,” jelas Yoga.

Di samping itu, Yoga beranggapan jika PAN punya tanggung jawab untuk menjaga agar Muhammadiyah tetap netral dan menajalankan fungsi dakwah dan sosialnya.

Hanya saja, pria lulusan Universitas Udayana Bali itu memastikan bahwa hingga tahun politik 2024 ini, PAN tetap melakukan komunikasi dan merawat sisi historis tersebut bersama Muhammadiyah.

Selain itu, pihaknya juga kini tengah membangun basis sosial baru di luar basis konstituen yang ada untuk menyegarkan politik PAN dan menggalang suara.

“Misalnya menggunakan basis-basis nelayan, basis-basis mahasiswa, basis petani, segmentasi millennial, gen Z dan lain sebagainya,” tutur Yoga.

“Itu semuanya sudah terpetakan dan masing-masing ada pemicunya untuk melakukan penggalangan suara di masing-masing segmen sosial,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Yoga berujar jika kini PAN sudah melakukan banyak perubahan, termasuk trobosan membuat jingle PAN-PAN-PAN yang digandrungi banyak orang di berbagai kalangan.

Pasalnya, partainya itu kini selalu membuat program yang mengikuti apa maunya pasar dengan mengelaborasi ideologi politik partai dan landasan hukum di setiap program tersebut.

“PAN ini adalah blue squad. Blue squad itu adalah tim dari PAN. Ada artis, ada kaum profesional, ada Gen Z di situ,” ujarnya.

“Dan mereka bergerak untuk mendekati kaum muda, Gen Z, dan memberikan pendidikan politik kepada mereka,” imbuhnyaa.

“Jadi kami di samping tetap membina basis konsekuennya yang sudah ada, kami juga memfokuskan kepada pemilih kaum milenial dan generasi yang 56 persen itu,” ucap Viva.

“Dan banyak program. Biasanya program untuk mendekati mereka dengan cara, bahasa, gaya, dan metode mereka,” pungkasnya.

Komentar:

Komentar menjadi tanggung jawab Anda sesuai UU ITE

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button