Dalam perspektif ekonomi makro, kawasan transmigrasi umumnya memiliki potensi sumber daya alam dan lahan yang luas, namun belum termanfaatkan secara optimal.

Ketika aktivitas ekonomi di kawasan ini berkembang—melalui pertanian, perkebunan, perikanan, atau jasa—maka terjadi peningkatan produksi barang dan jasa. Peningkatan output ini secara langsung menambah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan pada skala nasional akan berkontribusi pada Produk Domestik Bruto (PDB).

Selain itu, distribusi aktivitas ekonomi yang lebih merata mengurangi ketimpangan antarwilayah dan memperkuat struktur ekonomi nasional.

Kawasan transmigrasi dapat menjadi basis awal industrialisasi berbasis sumber daya lokal. Hasil pertanian dan komoditas primer yang dihasilkan transmigran dapat diolah melalui industri pengolahan (agroindustri), sehingga tercipta nilai tambah.

Proses industrialisasi ini mendorong munculnya usaha kecil dan menengah (UMKM), investasi baru, serta pembangunan infrastruktur pendukung seperti jalan, energi, dan logistik. Industrialisasi di kawasan transmigrasi juga membantu mengurangi ketergantungan pada industri yang terpusat di wilayah tertentu saja.

Berkembangnya kegiatan ekonomi dan industri di kawasan transmigrasi membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan produktivitas tenaga kerja.

Hal ini berdampak langsung pada peningkatan pendapatan masyarakat transmigran dan penduduk lokal. Dengan pendapatan yang lebih tinggi, daya beli masyarakat meningkat, yang selanjutnya mendorong konsumsi domestik. Peningkatan konsumsi ini menjadi motor pertumbuhan ekonomi, baik di tingkat regional maupun nasional.